Sabtu, 20 Maret 2010

ALLOH JALLA JALAALUH

Kalau bukan karena cinta, masakan dunia wujud dari tiada.
Kalau bukan karena rindu, masakan manusia menyahut seruan.
Manusia dan kehidupan, punya makna dan penghayatan.
Itulah antara hakikat yang tidak dapat dinafikan.

Alloh SWT menciptakan seluruh alam ini, karena kasih-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya.
Alloh SWT member kemudahan kepada manusia dalam lapangan kehidupan,
agar kehambaan mereka mudah terlaksana.
Penghulu makhluk yang paling dicintai-Nya adalah Rosululloh SAW,
penghulu para perindu,
Nilai cinta Aloh, ada dalam diri setiap zarrah.
Namun bagi yang terus lalai, dirinya sendiri itulah yang tiada nilai.
Bagi yang terus mendustai kebenaran, dirinya sendiri itulah yang menuju kemusnahan.
Alloh SWT menganugerahkan kepada manusia akal dan pikiran,
supaya berpikir dalam mencari kebenaran.
Kebenaran itu lebih dekat dengan dirinya dari pada dirinya sendiri.

Kebenaran abadi adalah dibalik setiap gerak diam setiap kewujudan,
ada yang Maha Pentadbir yang menggerakkan dan mentadbir setiap urusan.
Seseorang yang dahaga, lalu meminum air dari telaga, tanpa menyaksikan disebaliknya
ada yang Maha Pencipta, niscaya dia akan terus terlengah dengan keakuan dirinya.
Tetapi bagi mereka yang menyaksikan diri senantiasa dengan Alloh SWT dalam setiap
gerak dan tindakan, pasti mengerti akan hakikat kewujudan.
Apabila dia dahaga, dia tahu bukan dialah yang akan menghilangkan dahaga tersebut,
dia juga tahu bukan airlah yang menghilangkan dahaga.
Tetapi Alloh lah yang terus menerus memberi nikmat dan bantuan kepadanya,
bahkan kepada setiap insan untuk terus hidup.
Dia faham kalau bukan Alloh SWT yang menciptakan air, maka dia juga tidak dapat
minum untuk menghilangkan dahaga.
Kalaulah disana ada air, tetapi Alloh SWT tidak memberi keupayaan dalam dirinya
untuk bergerak, seperti lumpuh dan sebagainya, maka dia juga tidak dapat
mengambil manfaat dari air tersebut karena tidak mampu bergerak untuk mengambil air.
Kalaulah ada air dan kekuatan, tetapi air tersebut diciptakan oleh Alloh sebagai air
yang tidak menghilangkan dahaga seperti air laut, maka niscaya dia juga tidak dapat
menghilangkan dahaga, walaupun ada kekuatan dan ada air.

Maka hakikat ini akan membawa seseorang kepada menghayati disana adanya
Alloh…Alloh…Alloh…di sebalik setiap wujud.
Hidup ini berkaitan dengan mencari arti, hidup ini berkaitan dengan memberi bakti.
Itulah risalah ketuhanan dalam makna kehambaan dan khilafah.
Dengan kehambaan, seseorang perlu terus mencari arti hubungan dengan Tuhannya,
lalu menunaikan makna kehambaannya kepada Tuhannya,
sehingga mencapai keridhoan dari Tuhannya.
Dengan peranan sebagai khilafah, seseorang perlu berinteraksi dengan alam
sekeliling secara adil, dalam rangka untuk menunaikan tugas
kehambaannya kepada Tuhannya.
Dia perlu menjaga alam ini, memakmurkan alam ini dan menjadikan alam ini
sebagai tempat untuk menunaikan kehambaan makhluk kepada Tuhan Maha Pencipta.
Dalam diri manusia yang berperanan itu juga, ada peranan cinta Alloh SWT
dalam menterjemahkan hakikat ketuhanan-Nya melalui kelembutan-Nya yang abadi.
Dalam setiap ketentuan-Nya, melalui pandangan kebersamaan Alloh,
seseorang dapat melihat akan kelembutan-Nya (Lathif).
Dalam pentadbiran kewujudan makhluk-Nya, melalui hati yang dipenuhi Cahay Ihsan,
seseorang akan menghayati kebijaksanaan-Nya (Hikmah).
Alloh SWT itu lebih dekat kepada makhluk-Nya berbanding makhluk-Nya
kepada diri mereka sendiri, karena tanpa-Nya tiadalah makhluk itu sendiri.
Keakuan makhluk hanya terlahir dipandangan semu makhluk tersebut,
tatkala hijab melingkari hati dari menyaksikan keagungan Alloh SWT
dan ketuhanan-Nya di sebalik yang wujud. Bukalah mata dan saksikanlah cinta….
Islam mengajarkan arti kehambaan, namun hakikat kehambaan itulah
hakikat diri kita sejak diciptakan.
Dengan mengamalkan Islam, berarti kita menterjemahkan arti kehambaan kita.
Dengan mengukuhkan keimanan, berarti kita menterjemahkan nilai-nilai kehambaan kita.
Dengan anugerah Ihsa, berarti kehambaan kita diterima-Nya…
Alloh…..Alloh…..Alloh…..

Manusia makin menuju mati, baik merindui-Nya atau mengkhianati-Nya.
Kepada yang terus lalai dari mempersiapkan diri untuk menemui-Nya,
maka antara dia menipu dirinya sendiri atau dirinya tertipu dengan dirinya sendiri.
Kedua-duanya adalah kecelakaan dalam kecelakaan.
Dunia ini, makin banyak yang dihimpun, makin banyak yang ditinggalkan.
Dunia ini, makin tamak manusia mengejarnya, makin terbeban untuk meninggalkannya.
Dunia ini, nilainya pada kehambaan, dunia ini artinya pada kemerdekaan jiwa
dalam menunaikan ketaatan kepada Alloh SWT yang Maha Mencipta.

Jalan ini, jalan cinta…jalan cinta menyaksikan yang dicinta tanpa pencinta.
Nilainya pada kebersamaan, keagungannya pada keridhoan.
Seseorang itu sempurna bukan karena banyaknya amalan,
tapi sempurna di sisi-Nya karena Dia meridhoinya.
Jalan keridhoaan Tuhan bukan bergantung kepada amalan, tetapi sejauh mana
seseorang menghayati bahwa setiap amalan yang dikerjakannya adalah dari Tuhan.
Amal dengan keakuan, itulah pengkhianatan.
Syukur melalui amalan itulah kehambaan.
Alloh…..Alloh…..Alloh…..
Nabi Muhammad SAW, …Rosululloh, itulah seagung-agung qudwah dan tauladan.

Minggu, 14 Maret 2010

MAHA KASIH

Ketika seseorang berada di dalam keterpurukan iman,
hanyalah cinta dan kasih sayang lah yang mampu membawanya
kembali ke jalan yang benar.

Di zaman Bani Israil, ada seorang lelaki sangat fasiq lagi durhaka.
Kefasiqan yang dilakukannya semakin hari semakin menjadi-jadi, karena penduduk
negeri tidak ada yang berani mencegahnya.
Melihat kefasiqannya yang semakin tidak karuan, akhirnya mereka bersepakat untuk
menyerahkan segala urusannya kepada Alloh.
Lalu, mereka memanjatkan do’a, memohon kepada Alloh agar si fasiq diberi peringatan
atau pembalasan.
Alloh kemudian memerintahkan kepada Nabi Musa agar mengusir lelaki fasiq itu
dari negerinya, sebab dikhawatirkan kalau-kalau penduduk negeri mendapat azab
dari Alloh sebagai siksaan di dunia lantaran kefasiqan yang telah dilakukan lelaki itu.

Merasa mendapatkan perintah dari Alloh, Nabi Musa segera bertindak.
Lelaki fasiq itu dipanggil kemudian diusir agar meninggalkan negeri Israil.
Lelaki itu menuruti perintah Nabi Musa, pergi meninggalkan kampung halaman,
masuk kedalam hutan belantara.
Di dalam hutan, tidak ada makhluk yang tinggal, baik burung maupun binatang buas.
Kini, hutan yang lengang dan sepi, dihuni seorang anak manusia yang diusir
dari kampung halamannya.

Setelah beberapa hari tinggal ditengah hutan, lelaki itu jatuh sakit.
Tidak ada seorangpun yang mengetahui, apalagi menolong.
Ketika dalam keadaan kritis, menjelang ajal menghampiri, dia sempat mengucap
kalimat “Ya Tuhanku, seandainya ibuku berada disisiku saat ini, tentu akan merasa
belas kasihan melihat keadaanku, dan ibuku pun pasti akan menolongku.
Seandainya kedua orang tuaku saat ini berada disisiku, tentu akan memandikannya,
mengafani, mensholati, dan menguburkan jenazahku.
Seandainya anak isteriku saat ini berada disampingku, tentu mereka menangisi
dan mengiring jenazahku, serta mendo’akan kepadaku, ‘Ya Alloh, ampunilah dosa-dosa
orang tua yang pergi jauh nan hina ini, yang fasiq, yang banyak melakukan perbuatan
dosa dan maksiat kepada-Mu, yang telah diusir dari kampung halamannya
hingga pergi ke hutan belantara, serta meninggalkan alam fana yang indah
menuju akhirat yang abadi dengan penuh penderitaan.
Dia jauh dari sanak keluarga, anak isteri, teman kerabat, dan segalanya, kecuali Rahmat-Mu.
Ya Alloh, curahkanlah rahmat dan ampunan dari sisi-Mu
.

Ketika sakit, lelaki itu tidak pernah lupa memanjatkan do’a, “ Ya Alloh, Engkau telah memisahkan aku dengan orang tua, anak, dan isteriku.
Tapi,…janganlah Engkau memisahkan diriku dengan Rahmat-Mu, Ya Alloh, Engkau telah
Membakar hatiku dengan panasnya perpisahan dengan sanak keluarga, tapi,..janganlah
Engkau membakar diriku dengan api neraka lantaran perbuatan maksiat
yang terlanjur aku lakukan
.”

Atas izin Alloh, do’a yang dianjatkan itu dikabulkan, Alloh kemudian mengutus
tiga bidadari agar menyerupai ibunya, anak, dan isterinya.
Alloh juga mengutus seorang malaikat berwajah menyerupai ayahnya, hingga ketika
menjelang ajal, lelaki itu merasa ditunggui oleh seluruh keluarga yang dicintai.
Mereka menangis dan menyesali kepergiannya, serta merasa kasihan terhadap lelaki
yang terbaring sakit itu.
Melihat kenyataan yang ada, lelaki itu merasa tenang dan bahagia, karena dapat bertemu
dengan sanak keluarga.
Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Alloh, menjelang ajalnya dia berdo’a,
Ya Alloh, janganlah Engkau memutuskan diriku dari rahmat-Mu,
sungguh Engkau adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu
.”
Selesai mengucapkan do’a, lelaki itu meninggal, dia mendapatkan Khusnul Khotimah,
terampuni dari segala dosa, dan mendapat tempat mulia disisi Alloh SWT.
Alloh kemudian menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS, “Hai Musa, pergilah ke hutan
belantara, sungguh disana salah seorang kekasih_ku telah meninggal, mandikan, kafani,
sholati dan kuburkanlah jenazahnya
.”
Nabi Musa segera berangkat dan sampailah pada tujuan yang telah diperintahkan Alloh,
dia melihat lelaki yang pernah diusir dari kampung halaman itu telah terbujur kaku,
dan di kiri kanannya banyak bidadari yang menangisi.
Melihat kejadian yang menakjubkan tersebut, Nabi Musa segera mengajukan pertanyaan
kepada Alloh, “Ya Alloh adakah ini jenazah lelaki yang pernah kami usir
atas perintah-Mu itu
?”
Hai Musa, apa yang engkau katakana adalah benar, tapi Aku telah mengasihi dia,
Serta Aku telah mengampuni dosa-dosanya, karena ketika sakit dia sadar,
perpisahan dengan keluarga dikampung halaman bukanlah sesuatu yang memberatkan,
tetapi yang memberatkan baginya adalah ketika harus berpisah dengan Rahmat-Ku.
Lalu, aku mengutus bidadari dan malaikat dalam bentuk wajah keluarganya,
Semua itu Aku lakukan karena rasa belas kasih-Ku kepadanya.
Ketika dia sakit seorang diri ditengah hutan belantara, dia sangat merindukan
sanak keluarganya, hingga ketika dia meninggal seluruh makhluk yang berada
dilangit dan dibumi menangisi kepergiannya lantaran merasa belas kasihan terhadap
penderitaan yang dialami.
Hai Musa, bagaimana Aku tidak akan merasa belas kasihan kepadanya,
sedangkan Aku adalah Dzat Yang Maha Pengasih, oleh karena do’a yang dipanjatkan
ketika sakit, dia memperoleh kedudukan mulia disisi-Ku,
sekalipun kebanyakan orang memberikan penilaian bahwa dirinya
seorang fasiq ketika didunia
.”

Sabtu, 13 Maret 2010

SYARAH RIYADHUSH SHOLIHIN

Menuju Kesempurnaan Ubudiyyah

Para ulama dan penuntut ilmu telah mengambil bagian dari kitab ini
dengan mempelajari dan mengajarkannya.
Kitab Riyadhush Sholihin, atau lengkapnya Riyadhush Sholihin min Kalaamis
Sayyidil Mursalin merupakan salah satu karya terbaik (masterpiece)
Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarif an-Nawawi atau lebih dikenal
dengan sapaan Imam an-Nawawi.
Kitab ini merupakan karya besar di bidang hadits yang sangat populer
di kalangan kaum Muslimin.
Ini merupakan kitab hadis terlengkap, dan masyhur hingga ke berbagai penjuru dunia.

Mayoritas kaum Muslimin di berbagai belahan dunia menyambut kehadiran
Riyadhush Sholihin dengan menerima dan menyongsongnya.
Sehingga kitab ini menjadi guru bagi para guru dalam mendidik dan memperbaiki umat.
Sampai-sampai dikatakan, ”Sedikit sekali rumah kaum Muslimin yang tidak memilikinya.”

Dalam kitab ini, Imam an-Nawawi menyusun hadits-hadits dengan tertib
dan mengklasikasikannya secara baik, memberikan harakat pada kata yang samar,
dan menjelaskan secara gamblang kata-kata yang tidak dimengerti,
sehingga kitab ini menjadi karya yang indah, yang kokoh peletakannya,
menjadi kuat sayapnya, telah didudukkan intisarinya, mudah digapai makna bahasanya,
dan banyak dikutip kandungan ilmunya.

Riyadhush Sholihin terdiri dari satu jilid. Imam an-Nawawi membaginya menjadi
beberapa kitab dan menjadikan setiap kitab sebagai judul untuk beberapa hadits
yang tercakup di beberapa bab yang berasal dari satu jenis.
Kemudian ia menjadikan kitab itu beberapa judul. Imam an-Nawawi menjadikan
bab sebagai judul untuk sejumlah hadis yang menunjukkan pada masalah tertentu.

Di dalam kitab ini terdapat sembilan belas kitab yang disebutnya secara keseluruhan,
selain kitab yang pertama, dan tiga ratus tujuh puluh dua bab.
Imam an-Nawawi memulai pembukaan bab-bab dalam Riyadhush Sholihin
dengan ayat-ayat al-Qur’an yang sesuai dengan tema bab.
Yang demikian itu, karena Sunnah merupakan perinci bagi al-Qur’an yang mulia,
sekaligus sebagai penjelas dan keterangan baginya.

Kitab ini, diakui sangat besar manfaatnya bagi kaum Muslimin, khususnya bagi
mereka yang istiqomah berupaya mencapai kesempurnaan ‘ubudiyyah
(penghambaan diri kepada Alloh).
Membaca kitab yang ditulis oleh ulama besar di bidang hadits dan fiqih ini,
kaum Muslimin dapat mengambil manfaat melalui risalah tentang berbagai persoalan
mendasar yang tercakup di dalam hadits-hadits tentang zuhud, olah jiwa,
pembentukan akhlak, penyucian dan penyembuhan hati, pemeliharaan anggota tubuh,
dan berbagai upaya pemberantasan penyelewengan, serta tujuan-tujuan mulia lainnya.
Lebih jauh lagi, kitab ini memaparkan hadits-hadits fadhilah (keutamaan)
waktu dan amal perbuatan, etika secara lahir dan batin, mencakup hukum halal dan haram,
pemaduan kabar gembira dan ancaman, serta adab para salikin,
yaitu orang-orang yang senantiasa menuju keridhaan Alloh SWT.

Para ulama dan penuntut ilmu telah mengambil bagian dari kitab ini dengan mempelajari
dan mengajarkannya. Banyak ulama yang telah berperan mengupayakan perbaikan,
telah ikut memberikan dukungannya, demikian pula kendaraan-kendaraan mereka
yang menginginkan kemenangan, bergegas dan bersungguh-sungguh mendatanginya;
mereka mendatangi sumbernya yang jernih, menghirup harumnya yang semerbak.

Di antara mereka ada yang meringkas dan membersihkannya dari hal-hal
yang dirasa kurang penting, ada pula yang meneliti dan mendekatkannya
agar mudah dipahami, serta ada pula yang menjelaskannya secara rinci.
Ada empat syarah (ringkasan) kitab Riyadhush Sholihin yang sudah terbit sebelumnya.
Yakni, Daliilul Faalihiin li Thuruqi Riyaadhish Shoolihiin karya Muhammad
bin Allan ash-Shiddiqi asy-Syafi'i al-Asya'ari al-Makki (wafat 1057 H),
dan Nuzhotul Muttaqiin Syarh Riyaadhish Shoolihiin karya Mushthofa Sa'id al-Khan,
Musthofa al-Bugho, Muhyiddin Mustu, Ali asy-Syarbaji dan Muhammad Amin Luthfi.
Juga, Manhalul Waaridiin Syarh Riyaadhush Shoolihiin karya Shubhi ash-Sholih,
dan Daliilur Rooghibiin ilaa Riyaadhush Shoolihiin karya Faruq Hamadah.
Semua kitab tersebut merupakan syarah kontemporer.

Yang terbaru adalah Bahjatun Naazhiriin fii Syarhi Riyaadhush Shoolihiin
yang ditulis dengan cermat oleh Syaikh Salim bin Ied al-Hilali.
Kitab inilah yang diindonesiakan dan diterbitkan oleh Pustaka Imam asy-Syafi'i
dengan judul Syarah Riyadhush Sholihin.
Buku yang penerjemahan ke dalam bahasan Indonesia dan penerbitannya
oleh Pustaka Imam Asy-Syafii mendapatkan izin resmi dari Syaikh Salim bin Ied
al-Hilali ini diterbitkan dalam lima jilid.

Ada hal lain, tegas Syaikh Salim, yakni bahwa memahami dan mendalami Alquran
dan Sunah Rosul, serta menyesuaikannya dengan pemahaman kaum Salaf,
merupakan bentuk ketaatan yang paling utama dan ibadah yang sangat penting,
bahkan merupakan nikmat yang sangat agung.

Syaikh Salim menambahkan, ia terdorong menerbitkan kitab syarah ini
karena kitab Riyadhush Sholihin sangat layak dibaca oleh kaum Muslimin.
Dengan adanya syarah tersebut, diharapkan kaum Muslimin memahami
dan mendapat manfaat dari isi kandungan hadis-hadis tersebut dengan jelas dan benar,
khususnya yang menghendaki kesempurnaan ubudiyyah dan yang membutuhkan
jalan menuju kebaikan serta terhindar dari segala keburukan dan kebinasaan
di dunia dan akhirat.

Riyadhush Sholihin merupakan kitab yang sangat monumental.
Kitab ini akan sangat berguna bagi kaum Muslimin bila mereka berupaya
bersungguh-sungguh dalam menelaah hadis hadisnya, memahami kandungan isinya
dan menghayati ajarannya, serta merealisasikannya dalam kehidupan nyata.

Imam dalam Kezuhudan, Teladan dalam Ketaatan

Nama lengkap Imam an-Nawawi adalah Yahya bin Syarif bin Murry bin Hasan
bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam.
Ia disebut juga sebagai Abu Zakariya, walaupun ia tidak mempunyai anak
yang bernama Zakaria, karena ia belum sempat menikah selama hidupnya.
Ia juga mendapatkan gelar ”Muhyiddin”(orang yang menghidupkan agama),
padahal ia tidak menyukai gelar tersebut.

Ia lahir di Nawa, sebuah daerah di bumi Hauran, bagian dari wilayah Damaskus,
pada bulan Muharram 631 H, dan wafat serta dimakamkam di kampung halamannya,
24 Rajab 676 H. Sejak kecil ia bia sa dipanggil an-Nawawi (dinisbahkan pada ”Nawa”),
dengan bermazhabkan asy-Syafi’i. Ia bermukim di Damaskus selama 26 tahun,
lalu bertolak ke Baitul Maqdis, kemudian kembali lagi ke kampung halamannya.

Sang Imam diasuh dan dididik oleh ayahnya dengan gigih. Sang Ayah mendorong
an-Nawawi untuk menuntut ilmu sejak kecil, sehingga ia berhasil mengkhatamkan Alquran
ketika mendekati usia baligh.
Ia berhasil menghapal kitab at-Tanbiih fii Furuu’isy-Syaafi’iyah,
karya Abu Ishaq asy-Syai rozi dalam waktu kurang lebih empat setengah bu lan.
Ia juga berhasil menghapal seperempat kitab al-Muhadzdzab fil Furuu'i pada tahun yang sama.

Setiap hari, Imam an-Nawawi membaca dua belas pelajaran dalam bentuk syarah dan komentar.
Dua pelajaran dalam kitab al-Wasith, dan masing-masing satu pelajaran dalam
kitab al-Muhadzdzab, al-Jam'u baina ash-Shohihain, Shohih Muslim,
al-Luma (karya Ibnu Jinni), kitab Ishlaahul Manthiq, Tashriif, Ushuulul Fiqh,
Asmaa’ar-Rijaal, dan Ushuuluddiin.

Para ulama yang menulis tentang biografinya telah bersepakat bahwa Imam an-Nawawi
sebagai imam dalam kezuhudan, teladan dalam hal ketaatan, dan panutan dalam menegakkan
amar maruf dan nahi munkar, serta dalam memberikan nasihat kepada para penguasa.
Semasa hidupnya, ia sibuk mengajar di madrasah Iqbaaliyah war Rukniyyah,
milik pengikut madzhab asy-Syafii. Ia lalu memegang kepemimpinan para syekh
Daarul Hadits al-Asyrofiyyah, hingga akhir hayatnya.

Imam an-Nawawi adalah seorang ulama yang produktif menulis.
Ia telah menghasilkan banyak karya tulis dalam berbagai bidang ilmu.
Karyanya dalam bidang ilmu hadits adalah: Syarhu Shohiih Muslim, al-Adzkaar,
al-Arbauun an-Nawawiyah, al-Isyaaroot ilaa Bayaanil Asmaa’il-Mub hamaat, at-Taqriib,
Irsyaadu Thullaabil Haqoo-iq ilaa Ma’rifati Sunani Khoiril Kholaa-iq, Syarhu Shohiih
al-Bukhori, Syarhu Sunan Abi Dawud, dan Riyaadhush Shoolihiin
min Kalaami Sayyidil Mursaliin.

Adapun karyanya dalam bidang fiqih adalah: Raudhotuth Thoolibiin wa Umdatul Muftiin
dan al-Majmuu Syarh al-Muhadzdzab.
Karya-karya Imam an-Nawawi mempunyai keunggulan, yaitu sangat jelas,
menggunakan ungkapan yang mudah dipahami, dan diwarnai dengan kata-kata yang indah.