Sabtu, 13 Maret 2010

SYARAH RIYADHUSH SHOLIHIN

Menuju Kesempurnaan Ubudiyyah

Para ulama dan penuntut ilmu telah mengambil bagian dari kitab ini
dengan mempelajari dan mengajarkannya.
Kitab Riyadhush Sholihin, atau lengkapnya Riyadhush Sholihin min Kalaamis
Sayyidil Mursalin merupakan salah satu karya terbaik (masterpiece)
Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarif an-Nawawi atau lebih dikenal
dengan sapaan Imam an-Nawawi.
Kitab ini merupakan karya besar di bidang hadits yang sangat populer
di kalangan kaum Muslimin.
Ini merupakan kitab hadis terlengkap, dan masyhur hingga ke berbagai penjuru dunia.

Mayoritas kaum Muslimin di berbagai belahan dunia menyambut kehadiran
Riyadhush Sholihin dengan menerima dan menyongsongnya.
Sehingga kitab ini menjadi guru bagi para guru dalam mendidik dan memperbaiki umat.
Sampai-sampai dikatakan, ”Sedikit sekali rumah kaum Muslimin yang tidak memilikinya.”

Dalam kitab ini, Imam an-Nawawi menyusun hadits-hadits dengan tertib
dan mengklasikasikannya secara baik, memberikan harakat pada kata yang samar,
dan menjelaskan secara gamblang kata-kata yang tidak dimengerti,
sehingga kitab ini menjadi karya yang indah, yang kokoh peletakannya,
menjadi kuat sayapnya, telah didudukkan intisarinya, mudah digapai makna bahasanya,
dan banyak dikutip kandungan ilmunya.

Riyadhush Sholihin terdiri dari satu jilid. Imam an-Nawawi membaginya menjadi
beberapa kitab dan menjadikan setiap kitab sebagai judul untuk beberapa hadits
yang tercakup di beberapa bab yang berasal dari satu jenis.
Kemudian ia menjadikan kitab itu beberapa judul. Imam an-Nawawi menjadikan
bab sebagai judul untuk sejumlah hadis yang menunjukkan pada masalah tertentu.

Di dalam kitab ini terdapat sembilan belas kitab yang disebutnya secara keseluruhan,
selain kitab yang pertama, dan tiga ratus tujuh puluh dua bab.
Imam an-Nawawi memulai pembukaan bab-bab dalam Riyadhush Sholihin
dengan ayat-ayat al-Qur’an yang sesuai dengan tema bab.
Yang demikian itu, karena Sunnah merupakan perinci bagi al-Qur’an yang mulia,
sekaligus sebagai penjelas dan keterangan baginya.

Kitab ini, diakui sangat besar manfaatnya bagi kaum Muslimin, khususnya bagi
mereka yang istiqomah berupaya mencapai kesempurnaan ‘ubudiyyah
(penghambaan diri kepada Alloh).
Membaca kitab yang ditulis oleh ulama besar di bidang hadits dan fiqih ini,
kaum Muslimin dapat mengambil manfaat melalui risalah tentang berbagai persoalan
mendasar yang tercakup di dalam hadits-hadits tentang zuhud, olah jiwa,
pembentukan akhlak, penyucian dan penyembuhan hati, pemeliharaan anggota tubuh,
dan berbagai upaya pemberantasan penyelewengan, serta tujuan-tujuan mulia lainnya.
Lebih jauh lagi, kitab ini memaparkan hadits-hadits fadhilah (keutamaan)
waktu dan amal perbuatan, etika secara lahir dan batin, mencakup hukum halal dan haram,
pemaduan kabar gembira dan ancaman, serta adab para salikin,
yaitu orang-orang yang senantiasa menuju keridhaan Alloh SWT.

Para ulama dan penuntut ilmu telah mengambil bagian dari kitab ini dengan mempelajari
dan mengajarkannya. Banyak ulama yang telah berperan mengupayakan perbaikan,
telah ikut memberikan dukungannya, demikian pula kendaraan-kendaraan mereka
yang menginginkan kemenangan, bergegas dan bersungguh-sungguh mendatanginya;
mereka mendatangi sumbernya yang jernih, menghirup harumnya yang semerbak.

Di antara mereka ada yang meringkas dan membersihkannya dari hal-hal
yang dirasa kurang penting, ada pula yang meneliti dan mendekatkannya
agar mudah dipahami, serta ada pula yang menjelaskannya secara rinci.
Ada empat syarah (ringkasan) kitab Riyadhush Sholihin yang sudah terbit sebelumnya.
Yakni, Daliilul Faalihiin li Thuruqi Riyaadhish Shoolihiin karya Muhammad
bin Allan ash-Shiddiqi asy-Syafi'i al-Asya'ari al-Makki (wafat 1057 H),
dan Nuzhotul Muttaqiin Syarh Riyaadhish Shoolihiin karya Mushthofa Sa'id al-Khan,
Musthofa al-Bugho, Muhyiddin Mustu, Ali asy-Syarbaji dan Muhammad Amin Luthfi.
Juga, Manhalul Waaridiin Syarh Riyaadhush Shoolihiin karya Shubhi ash-Sholih,
dan Daliilur Rooghibiin ilaa Riyaadhush Shoolihiin karya Faruq Hamadah.
Semua kitab tersebut merupakan syarah kontemporer.

Yang terbaru adalah Bahjatun Naazhiriin fii Syarhi Riyaadhush Shoolihiin
yang ditulis dengan cermat oleh Syaikh Salim bin Ied al-Hilali.
Kitab inilah yang diindonesiakan dan diterbitkan oleh Pustaka Imam asy-Syafi'i
dengan judul Syarah Riyadhush Sholihin.
Buku yang penerjemahan ke dalam bahasan Indonesia dan penerbitannya
oleh Pustaka Imam Asy-Syafii mendapatkan izin resmi dari Syaikh Salim bin Ied
al-Hilali ini diterbitkan dalam lima jilid.

Ada hal lain, tegas Syaikh Salim, yakni bahwa memahami dan mendalami Alquran
dan Sunah Rosul, serta menyesuaikannya dengan pemahaman kaum Salaf,
merupakan bentuk ketaatan yang paling utama dan ibadah yang sangat penting,
bahkan merupakan nikmat yang sangat agung.

Syaikh Salim menambahkan, ia terdorong menerbitkan kitab syarah ini
karena kitab Riyadhush Sholihin sangat layak dibaca oleh kaum Muslimin.
Dengan adanya syarah tersebut, diharapkan kaum Muslimin memahami
dan mendapat manfaat dari isi kandungan hadis-hadis tersebut dengan jelas dan benar,
khususnya yang menghendaki kesempurnaan ubudiyyah dan yang membutuhkan
jalan menuju kebaikan serta terhindar dari segala keburukan dan kebinasaan
di dunia dan akhirat.

Riyadhush Sholihin merupakan kitab yang sangat monumental.
Kitab ini akan sangat berguna bagi kaum Muslimin bila mereka berupaya
bersungguh-sungguh dalam menelaah hadis hadisnya, memahami kandungan isinya
dan menghayati ajarannya, serta merealisasikannya dalam kehidupan nyata.

Imam dalam Kezuhudan, Teladan dalam Ketaatan

Nama lengkap Imam an-Nawawi adalah Yahya bin Syarif bin Murry bin Hasan
bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam.
Ia disebut juga sebagai Abu Zakariya, walaupun ia tidak mempunyai anak
yang bernama Zakaria, karena ia belum sempat menikah selama hidupnya.
Ia juga mendapatkan gelar ”Muhyiddin”(orang yang menghidupkan agama),
padahal ia tidak menyukai gelar tersebut.

Ia lahir di Nawa, sebuah daerah di bumi Hauran, bagian dari wilayah Damaskus,
pada bulan Muharram 631 H, dan wafat serta dimakamkam di kampung halamannya,
24 Rajab 676 H. Sejak kecil ia bia sa dipanggil an-Nawawi (dinisbahkan pada ”Nawa”),
dengan bermazhabkan asy-Syafi’i. Ia bermukim di Damaskus selama 26 tahun,
lalu bertolak ke Baitul Maqdis, kemudian kembali lagi ke kampung halamannya.

Sang Imam diasuh dan dididik oleh ayahnya dengan gigih. Sang Ayah mendorong
an-Nawawi untuk menuntut ilmu sejak kecil, sehingga ia berhasil mengkhatamkan Alquran
ketika mendekati usia baligh.
Ia berhasil menghapal kitab at-Tanbiih fii Furuu’isy-Syaafi’iyah,
karya Abu Ishaq asy-Syai rozi dalam waktu kurang lebih empat setengah bu lan.
Ia juga berhasil menghapal seperempat kitab al-Muhadzdzab fil Furuu'i pada tahun yang sama.

Setiap hari, Imam an-Nawawi membaca dua belas pelajaran dalam bentuk syarah dan komentar.
Dua pelajaran dalam kitab al-Wasith, dan masing-masing satu pelajaran dalam
kitab al-Muhadzdzab, al-Jam'u baina ash-Shohihain, Shohih Muslim,
al-Luma (karya Ibnu Jinni), kitab Ishlaahul Manthiq, Tashriif, Ushuulul Fiqh,
Asmaa’ar-Rijaal, dan Ushuuluddiin.

Para ulama yang menulis tentang biografinya telah bersepakat bahwa Imam an-Nawawi
sebagai imam dalam kezuhudan, teladan dalam hal ketaatan, dan panutan dalam menegakkan
amar maruf dan nahi munkar, serta dalam memberikan nasihat kepada para penguasa.
Semasa hidupnya, ia sibuk mengajar di madrasah Iqbaaliyah war Rukniyyah,
milik pengikut madzhab asy-Syafii. Ia lalu memegang kepemimpinan para syekh
Daarul Hadits al-Asyrofiyyah, hingga akhir hayatnya.

Imam an-Nawawi adalah seorang ulama yang produktif menulis.
Ia telah menghasilkan banyak karya tulis dalam berbagai bidang ilmu.
Karyanya dalam bidang ilmu hadits adalah: Syarhu Shohiih Muslim, al-Adzkaar,
al-Arbauun an-Nawawiyah, al-Isyaaroot ilaa Bayaanil Asmaa’il-Mub hamaat, at-Taqriib,
Irsyaadu Thullaabil Haqoo-iq ilaa Ma’rifati Sunani Khoiril Kholaa-iq, Syarhu Shohiih
al-Bukhori, Syarhu Sunan Abi Dawud, dan Riyaadhush Shoolihiin
min Kalaami Sayyidil Mursaliin.

Adapun karyanya dalam bidang fiqih adalah: Raudhotuth Thoolibiin wa Umdatul Muftiin
dan al-Majmuu Syarh al-Muhadzdzab.
Karya-karya Imam an-Nawawi mempunyai keunggulan, yaitu sangat jelas,
menggunakan ungkapan yang mudah dipahami, dan diwarnai dengan kata-kata yang indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar